Pages

Tuesday, November 11, 2008

Mereka Adalah Mujahid (Kenangan terakhir bersama Imam Samudera, Amrozi dan Mukhlas)

Ditulis pada Nopember 9, 2008 oleh abu ghozi

Sejak kedatangan jenazah Asy-Syahid Ustadz Imam Samudera yang diterima dirumah istri beliau Zakiah Derajat, keluarga besar tampak tabah dan meyakini akan syahidnya As Syahid Imam Samudera.
Seseorang bila telah syahid, biasanya mengeluarkan ciri khas yang menyertainya. Hal-hal tersebut sangat familiar ada di kancah jihad Afghanistan, Palestina, Iraq dan kancah jihad lainnya. Sebagai pertanda akan kesyahidan dan persaksian akan perjuangan yang telah dilakukan sebelumnya dengan susah payah. Demikian pula yang terjadi dengan Asy-Syahid Imam Samudera, Amrozi dan Mukhlas.

Wajah as syahid Imam Samudera yang sempat dibuka keluarga tampak putih segar, tersenyum dan berpaling kekanan sebagaimana ekspresi raut kebahagiaan dan kepuasan bertemu dengan Sang Khalik. As Syahid Imam Samudera membawa luka yang cukup untuk menjadi bukti di hadapan Allah untuk menjadi salah satu pengikut rombongan kafilah syuhada.
Tanda Syahid

Bukti-bukti kesyahidan atas tiga syuhada Bali ini terlihat dengan jelas. Di sekitar rumah kediaman Hj. Tariyem, Ibunda Ust. Amrozi, burung berwarna hitam berputar-putar di atas rumah. Selain itu bau semerbak yang keluar dari tubuh syuhada Amrozi dan Ustadz Mukhlaas jelas memancar. Khas bau seorang syahid. Bau itulah yang membuat suasana semakin haru. Para pelayat tak kuasa menahan air mata mereka. Wajah para syuhada terlihat sangat bersih dan tampan. Berseri dan terlihat tersenyum, tidak nampak bekas raut wajah yang menahan kesakitan, meski dibunuh dengan cara ditembak.

Tak jauh berbeda keadaan dengan Asy-Syahid Ustadz Imam Samudera. Menurut Khoirul Anwar, sang kakak, adiknya terlihat sangat bersih. Wajahnya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen. Seperti bayi yang baru saja dimandikan bidan,” tuturnya. “Wajahnya begitu bahagia dan bersih. Bibirnya tampak tersenyum,” imbuhnya.

Yang lebih aneh lagi adalah “Jenazah kakak wangi sekali waktu dikeluarkan dari peti. Seperti minyak wangi yang sering dipakainya,” ujar Lulu Jamaluddin dikutip inilah.com, di rumah duka, Lopang Gede, Serang

Tentang darah segar yang mengalir dari salah satu bagian tubuhnya, Khairul menjawab, “Memang darah Syuhada tak pernah kering,” ujarnya.

Wasiat Para Syuhada

Inilah wasiat Asy-Syahid Ustadz Imam Samudera :



“Saudara, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh umat Islam yang telah mengazzamkan dirinya kepada jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan setan akbar, Amerika dan Yahudi laknat.

Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.

Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Kepada antum semua yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belum usai. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, adalah Islam atau kafir.

Saudaraku, jadilah hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap dengan orang-orang kafir. Bukanlah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum semua menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh saudaraku, predikat itu lebih baik bagi kita daripada predikat seorang muslim, tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia daripada gelar ulama. Namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran.”

Berikut wasiat Asy-Syahid Ustadz Amrozi dan Ustad Mukhlas:



1. Jenasah meminta untuk dibawa kerumah agar diurus oleh keluarga.

2. Kemudian jenazah dibawa untuk dishalatkan di masjid Al Muttaqin, yang berdekatan dengan rumah syuhada, yang dipimpin oleh Ulama Umat Islam, dalam hal ini dipimpin oleh pimpinan Jama’ah Anshar Tauhid, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

3. Kemudian dibawa ke masjid pondok Al Islam untuk memberi kesempatan kepada takziyin yang belum sempat menshalatkan.

4. Baru kemudian jenazah dimakamkan di tanah keluarga yang berjarak sekitar 200 meter ke arah timur dari pondok Al Islam Lamongan.

Dan Takbir Pun Menjadi Salam Perpisahan

Pekikan takbir mengiringi datangnya jenasah para syuhada. Bagi pahlawan di medan perang, sambutan itu menggema , dan mengharu biru. Tidak ada sedikitpun perasaan bahwa mereka adalah teroris dan kriminal seperti yang telah digembar-gemborkan oleh aparat kepolisian, pihak yang melakukan pembunuhan keji terhadap Ustadz Imam Samudera, Ustadz Amrozi dan Ustad Mukhlaas. Bahkan warga meneriakan dukungan dan akan terus melanjutkan perjuangan mereka.

Di Serang, Banten, warga berebut untuk men-sholatkan jenazah Asy-Syahid Ustadz Imam Samudera. Daya tampung masjid yang terbatas membuat sholat jenazah terpaksa dilakukan hingga empat kali. Kondisi tak jauh beda dengan yang terjadi di Lamongan , Jawa Timur. Ribuan jamaah yang ikut dalam prosesi pemakaman syuhada Tenggulun, memaksa sholat jenazah dilakukan lebih dari dua kali.

Ribuan pelayat yang berdatangan dari segala penjuru kota, menjadi pertanda atas ketulusan perjuangan mereka. Tujuan dan seruan mereka yang disampaikan melalui wartawan televisi akan keikhlasan dalam memperjuangkan Islam dan kaum Muslimin, terbukti dengan banyaknya orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Entah akankah akan ditemui pejuang yang seperti mereka. Namun tabiat sejarah dan peradaban akan terus berulang. Kematian seorang pejuang akan melahirkan ribuan pejuang. Mati satu tumbuh seribu. Akan lahir mujahid yang mewarisi watak, prinsip, dan pendirian mereka meski dalam segi yang berbeda. Kemudian mereka juga akhirnya akan berakhir sama, menghadapi kematian syahid yang lama sudah mereka damba.

Tubuh saling berdesakan dan perhatian terus tertuju kepada jasad para syuhada sebelum masuk liang lahat. Bibir terus bergumam mengucapkan dzikir dan takbir. Allahu Akbar…!! Selamat jalan wahai syuhada, kami akan mewarisi sifatmu yang mulia. Dan takbir pun menjadi salam perpisahan kita di dunia.

dipetik dari:http://ghurabaunited.wordpress.com/

Monday, November 10, 2008

Pemuda Seru Perkasakan Pasti

Ditulis oleh WanKay
Monday, 10 November 2008


Kemaman - Dewan Pemuda PAS Negeri Terengganu menyeru semua organ parti di semua peringkat bersama-sama memperkasakan Pusat Asuhan Tunas Islam (Pasti).

Pasti perlu mendapat pembelaan terutama perhatian kepada guru-guru bertugas sepenuh masa dengan yang minima.

Ketuanya, Ustaz Azman Shapawi Abd Rani berkata Pusat Asuhan Tunas Islam (Pasti) pra-sekolah itu wajar memdapat pembelaan, sokongan dan dokongan ahli-ahli di peringkat cawangan masing-masing.


Katanya, Pasti telah terbukti mampu melahir dan mencorakkan pelapis generasi yang cintakan perjuangan Islam.

“Kita (PAS) kena bela, kena sokong dan dokong sekolah Pasti yang kita wujud di seluruh negeri Terengganu ini.



“Pasti mampu melahirkan pembentukan generasi yang cinta dan sayangkan perjuangan Islam,” ujarnya pada sesi penggulungan Ijtima’ Kepimpinan PAS Terengganu 2008 Kali Ke-12, di Dewan Dato’ Seri Amar Di Raja, Chukai Kemaman, 1 November lalu.

Katanya, pengorbanan guru-guru Pasti harus dihargai dan diambil tanggungjawab oleh semua pihak terutama cawangan-cawangan PAS terbabit.

Beliau yang juga Naib Ketua Pemuda PAS Pusat melahirkan rasa terharu kerana imbuhan elaun kepada guru-guru Pasti masih terlalu rendah.

Katanya, masih terdapat guru-guru Pasti yang menerima imbuhan elaun pada kadar serendah RM50.00 setiap bulan kerana kurang kemampuan di pihak pengurusan berkenaan.

“Maklumat yang kami (Pemuda) terima masih terdapat guru-guru Pasti di negeri Terengganu menerima imbuhan elaun serendah RM50.00 sebulan.

“Saya rasa terharu dengan jumlah RM50.00 sebulan untuk imbuhan guru Pasti di beberapa kawasan terpencil seperti di Setiu dan Hulu Terengganu,” jelasnya.

Manakala, katanya bayaran imbuhan guru Pasti yang paling tinggi sebanyak RM600.00 sebulan di Kemaman.

Menurutnya, kebanyakkan guru-guru Pasti menerima imbuhan antara RM150, RM250 dan RM400 sebulan mengikut kemampuan kewangan di tempat masing-masing.

Oleh itu, katanya sokongan dan dokongan ahli terutama di peringkat cawangan masing-masing dapat meringankan bebanan guru-guru Pasti berkenaan.

Monday, October 27, 2008

DARI LENSA ADMIN HTC @ HIMPIT 2008

<
TAKLIMAT SEBELUM BERKONVOI DARI RANTAU ABANG KE HIMPIT DI CHENDERING


DOA SEBELUM BERTOLAK


KONVOI DARI PANDANGAN KENDERAAN KETUA PEMUDA RANTAU ABANG


PESERTA DARI KAWASAN DUNGUN

PENDAFTARAN DAN PEMBARISAN PESERTA


KAWASAN PERKHEMAHAN KONTIGEN DUNGUN


PESERTA EXPLORACE DUNGUN


SEBAHAGIAN DRP PEMUDA DI HIMPIT 2008


ACARA SUKAN SEPAK RAGA


BOLASEPAK PANTAI PASUKAN DUNGUN VS HULU TERENGGANU


LARIAN HIMPIT

Tuesday, October 21, 2008



Himpunan Pemuda Islam Terengganu
HIMPIT '08






posted by Abu Mus'ab Mu'az @ 9:01 PM   0 comments


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...